Thursday, June 6, 2013

Bagi Bangsa ini Kita Berdiri


Akhirnyaaaa..selesai sudah penantian penempatan kita semuaa! Dan woohooo..ternyata kita ada di hampir semua provinsi di Indonesia! *bangga*terharu*senang*

Bangganya karna bisa punya banyak teman di seluruh provinsi Indonesia.
Terharunya melihat kita yang tadinya berasal dari daerah yang berbeda-beda dipersatukan di sebuah tempat yang bernama STAN selama kurang lebih 3 tahun, kini dipencar-pencarkan untuk melakukan tugasnya masing-masing di tempat-tempat yang berbeda :’)
Senangnya kalau misal ntar aku nyasar di sebuah daerah, bisa ada temen yang bisa dimintatolongin :D

Wew, tetiba terkenang kembali tanggal 20 Oktober 2008 kita mulai mengawali hari-hari di STAN dalam DINAMIKA-CERIA (CERdas Ilmunya, cerdas Akhlaknya) :D, then dipertemukan di Bintal PMK, trus ngadain makrab (acara yang ditujukan untuk mengakrabkan kita yang masih pada malu-malu dan unyu-unyu itu)..

pramakrab :')

Makrab :')


Ditempah selama 3 tahunan di STAN (plus bonus pembinaan mental di PMK STAN), di tempat selama penantian pengumuman penempatan instansi, di tempat magang,, sekarang saatnya kita semua diutus ke ladang yang sebenarnya.. yang tersebar di seluruh Indonesia..

Saturday, May 4, 2013

Pilih Mana?


Ada 3 kondisi. Kita sebut kondisi “A”,”B”,dan “C”.

Karena yang akan menjadi pilihan adalah kondisi “A” dan “C”, jadi kita mulai dengan mendeskripsikan kondisi “B” terlebih dahulu.

Kondisi “B” adalah kondisi dimana semua terjadi biasa-biasa saja. Cukup, tidak berkekurangan, juga tidak berlebihan. Terdapat kesehatan yang biasa-biasa saja (tidak ada sakit penyakit), juga ada uang yang pas-pasan untuk hidup (makan, berpakaian, dan bertempat tinggal). Keluarga, teman, dan semua orang yang disayangi juga masih ada pada tempatnya. Dalam kondisi ini juga kita bebas dari segala masalah, tapi juga gak nyaman-nyaman banget. Intinya, biasa-biasa aja.


Well, saatnya masuk pada opsi “A” dan “C”.


Kondisi "A"

Kita diperhadapkan terhadap berbagai masalah, kesulitan, dan/atau penyakit (termasuk juga..patah hati mungkin?). Dalam kondisi ini kita berkekurangan/mengalami kehilangan, baik itu kekurangan/kehilangan uang, kesehatan, maupun kasih sayang dan perhatian dari orang lain (apalagi dari orang yang kita sayangi).
Dalam kondisi ini kita mau gak mau (dipaksa) harus belajar apa yang namanya itu panjang sabaaar, rendah hati, tidak memaksakan kehendak kita yang terjadi (karna bakal percuma toh? wong segimanapun dipaksa, kenyataan tetap berkata lain :p), tekun berdoa, dan belajar berserah sepenuhnya sama Tuhan (yang otomatis semakin mendekatkan kita pada Tuhan). Semua itu mesti kita pelajari, karna kalau tidak (maksudnya ketika kita tidak bisa sabaran, suka ngototan, marah sama Tuhan, apalagi kalau sampai meninggalkanNya), kita hanya akan memperparah kondisi yang sedang kita hadapi.


Kondisi "C"

Kebalikan dari kondisi "A", disini kita akan mengalami yang namanya berlebihan materi, hidup enak, dimanja, dan berlebihan perhatian dan kasih sayang. Kondisi ini berpotensi besar membuat kita lembek, kurang dewasa, dan kurang terbentuk dalam karakter.


Jadi pilih mana? Kondisi “A” atau kondisi “C”?
Kalau dari segi enaknya, tentu hampir semua kita memilih kondisi “C”

Well, sekarang bagaimana kalau kita jadikan si kondisi “B” sebagai acuannya.

Maksudnya ketika terjadi masa transisi dari kondisi “A”/”C” ke kondisi “B”. ;)

Kita bergerak terlebih dahulu dari kondisi "A".
Kita yang tadinya untuk bisa makan dan punya tempat tinggal saja mesti berutang sana sini, sekarang sudah punya uang sendiri yang cukup untuk bisa makan dan punya tempat tinggal. Kita yang tadinya bisa hidup tanpa rasa sakit saja mesti ditopang sama obat-obatan dan makanan-makanan tertentu, bahkan lebih parahnya lagi kalau untuk mendapatkan oksigen yang kebanyakan orang menerimanya gratis kita mesti bayar mahal untuk memperolehnya, sekarang semuanya menjadi sehat-sehat saja. Dan kita yang tadinya merasa kekurangan kasih sayang dan perhatian dari orang lain, sekarang sudah memperoleh perhatian dan kasih sayang yang cukup dari orang-orang terdekat kita.
How is your feeling then? Tidakkah kita akan merasa sungguh sangat-sangat bersyukur, sampai-sampai pengen bikin acara syukuran, traktir teman sana-sini, lonjak-lonjak kegirangan, dan tersenyum sumringah tiada henti? *maaf lebay :p* Tapi sadar tidak sadar, yang kita syukuri itu sebenarnya hanyalah hal-hal yang biasa-biasa saja bagi orang-orang yang selama ini berada dalam kondisi “B”. Tapi dengan pernah mengalami kondisi “A” sebelumnya, kita bisa jadi merasa lebih bahagia dari mereka yang sudah lama menerima kondisi “B”. :)

Sekarang giliran kondisi “C” yang mengalami transisi.
Siapkah kamu membayangkan kamu yang tadinya punya uang yang lebih dari cukup, sangat berlebihan, bahkan sampai ada yang untuk dibuang-buang percuma (termasuk mungkin ada yang untuk dibakar dan merusak kesehatan), sekarang jadi punya duit yang pas-pasan saja untuk makan, tempat tinggal dan kebutuhan primer lainnya? Dan lain-lain yang ada padamu yang berlebihan ditarik, sehingga menjadi biasa-biasa aja. Tidak berkekurangan loh. Hanya menjadi biasa-biasa aja.
Pertanyaan yang sama dengan yang di atas, how is your feeling then? Kemungkinan besar kita bukannya tetap bersyukur karna masih dipelihara Tuhan, tapi malah menjadi suka mengeluh dan terobsesi agar masa-masa kejayaan datang kembali..


Mensyukuri hidup & hidup yang mengeluh, mana yang kamu pilih?
Kedewasaan & kekanakan, mana yang kamu pilih?
Kondisi “A” & kondisi “C”, mana yang akan kamu pilih?

Sebenarnya pertanyaan ini bukan untuk dijawab. Karna tulisan ini gak bermaksud untuk bikin kita jadi mengagung-agungkan kondisi “A” dan antipati terhadap kondisi “C”. Tapi lebih kepada bagaimana sikap hati kita terhadap semua kondisi itu. Bagaimana agar kita selalu bersyukur dalam segala kondisi (khususnya bersyukur untuk kondisi “A” yang telah banyak membentuk karakter kita), serta tidak menaikkan standar hidup (khususnya ketika berada pada kondisi "C").

Standar hidup.
Ini yang jadi pergumulanku akhir-akhir ini. Jujur, ide tulisan ini muncul, karna aku pikir aku sedang merasakan kondisi “C” akhir-akhir ini. Aku mulai terbuai sama kenyamanan yang diberikan oleh kantor: jalan-jalan ke kota sana-sini, terima duit ini-itu, dan dijamu makanan yang mewah-mewah. Sebenarnya hampir tidak ada yang salah dengan itu sepanjang masih dilakukan dalam batas-batas aturannya. Yang jadi masalah adalah ketika aku pun mulai menaikkan standar hidupku.

Aku yang dulunya it’s okay dengan hp yang gak bisa dipake untuk mem-foto, skarang jadi suka kesal dalam hati kalau hp yang skarang yang lumayan canggih yang sudah memberiku banyak kemudahan, mulai agak lola dalam meng-capture gambar (padahal karna perbuatanku sendiri). Aku yang tadinya it’s okay jalan kaki, mulai jadi manja harus naik motor/angkot ke tempat yang dekat sekalipun. Aku yang tadinya it’s okay naik pesawat apa aja, mulai jadi menggumam “yaaah” dalam hati kalau tidak jadi naik Garuda. Gawat!

Kesadaran ini membawaku teringat pada ayat yang menjadi one of my live verse,”Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Ini perkataan Ayub ketika ia kehilangan semuanya anak-anaknya, semua hartanya, dan juga kesehatannya! Bukannya mencaci-maki Tuhan, dia malah menyadarkan dirinya bahwa standar hidupnya adalah “telanjang” atau “ketidakpunyaan”. Ini membuatnya ketika materi dan segala yang lain bertambah begitu luar biasa, itu tidak mengubah kenyataan “datang dan pergi telanjang”.

Hidup yang demikian membuat kita berdaya tahan tinggi terhadap kehilangan, karena memang kita sebenarnya tidak punya apa-apa. Hidup demikian juga membuat kita sangat leluasa: hidup di atas bisa, di bawah pun bisa. Ayub pernah menjadi orang yang paling kaya di seluruh negerinya dan sekarang jatuh menjadi orang paling miskin di seluruh negeri. Ayub tidak menjadi stress, atau rendah diri.

Hidup seperti itu juga akan membuat kita merasa kaya, karena memiliki sehelai baju dan sepiring nasi itu sudah melampaui ketidakpunyaan, atau dengan kata lain, sudah merupakan kemewahan bagi kita yang seharusnya “datang dan pergi telanjang”.

Aku juga ingin seperti Ayub, yang selalu berstandarhidupkan ketidakpunyaan sehingga hidup bisa lebih lepas, lebih leluasa berbagi, dan lebih menikmati dan mensyukuri hidup.  *Siapapun yang membaca tulisan ini tolong agar mendoakan pergumulanku yang satu ini. :)

Well, kembali ke judul di atas “Pilih Mana?”. Lagi-lagi, sebenarnya bukan tentang memilih kondisi kehidupan kita (karena bagaimana pun kita tidak punya kuasa atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita), namun memilih bagaimana sikap hati kita terhadap apapun yang terjadi di hadapan kita. Akankah selalu bersyukur atau selalu mengeluh? Akankah ngotot mempertahankan segala sesuatu yang fana atau melepaskan diri dari segala keterikatan dan mudah berbagi kepada orang lain? Akankah hidup sengsara atau hidup bahagia?

Apapun yang terjadi pada perasaan kita, sesungguhnya itu adalah tanggung jawab kita. Ya, tanggung jawab kita dalam memanajemen hati dan pikiran kita. :)


Tuhan memberkati

Sunday, April 14, 2013

Mengampuni


Di KKP tadi siang, semua anggota bingung dengan ayat yang mengatakan “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”. Kalimat itu seperti mengatakan bahwa Tuhan bereaksi karna ada aksi kita terlebih dahulu. Tuhan mengampuni karna kita terlebih dahulu mengampuni. Kalau begitu Allah kita sifatnya “reaktif”? Benar begitu??

Syukur pada Allah, Allah kita bukanlah Allah yang reaktif. Kalau tidak, bisa gaswat kita. Tuntutan Allah itu begitu sempurna! “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Harus sempurna dulu lah kita, lalu Allah akan mengasihi kita, harus sempurna dulu lah kita lalu Allah akan mengampuni kita, dan harus sempurna dulu lah kita lalu Allah akan memberikan surga kepada kita (??!) Trus kalau kebaikan kita hanya bisa 75%, gimana donk? Atau, naikkan lagi deh, kita khan orangnya paling baik sedunia, kita khan rajin pelayanan, rajin memberi, berbuat kebaikan di sana sini,, tapi eits! jangan lupa, dosa itu adalah apapun yang melanggar perintah Tuhan. Apapun, termasuk ketika Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri, tapi kita gak suka (benci) sama orang2 tertentu; termasuk juga ketika Tuhan memerintahkan kita untuk melayani orang lain, tapi kita sering mengutamakan ego kita; dan termasuk juga ketika Allah melarang kita untuk gak menghakimi sesama, tapi kita (sering sekali lupa bahwa sedang) menghakimi; dan larangan2 yang gak kita sadari lainnya (termasuk ngomel2 dalam hati, negatif thinking akan orang lain dll yang tidak kelihatan oleh orang lain, tapi tentu Tuhan bisa melihatnya). Ternyata kita tidak bisa sesempurna tuntutan Tuhan itu. Jadi, kalau Allah kita Allah yang reaktif, gawatlah kita.. tinggal mempersiapkan diri saja masuk ke api neraka..

But what?! Look at this verse.. :)

Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar -- tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati --. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! (Roma 5:6-10)

Ayat di atas sudah cukup menjelaskan/menyatakan pada kita bahwa Allah kita bukanlah Allah yang reaktif, tapi justru adalah Allah yang berinisiatif untuk mengasihi kita dengan kasihNya yang sungguh besar (yang bersedia mengorbankan nyawaNya bagi kita agar kita selamat dari hukuman maut) sekalipun kita masih lemah, masih berdosa dan masih menjadi seteru(musuh)Nya.


Well, kalau begitu apa maksud ayat yang paling di atas tadi? “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”.


Akhirnya dalam KKP tadi kami menemukan jawabannya, bahwa ketika kita memohon agar dosa kita diampuni oleh Tuhan, tentunya haruslah dengan kesadaran bahwa dosa kita sungguh besar kepada Tuhan Yang Maha Kudus itu. Ya, bahkan jauuuh lebih besar dari kesalahan orang lain pada kita (yang sesama manusia berdosa), sehingga dengan serta merta kita (yang dengan rasa syukur yang besar karna dosa kita yang besar itu Tuhan bersedia mengampuninya) pun turut (dengan mudah) mengampuni kesalahan orang lain pada kita.
Kalau kita masih ogah mengampuni kesalahan orang lain pada kita, (bisa dibilang) dipertanyakan jangan-jangan kita kurang begitu merasakan besarnya anugerah pengampunan yang kita terima dari Tuhan. Atau dengan kata lain, kita merasa kurang (atau jangan2 tidak) berdosa kepada Tuhan. Dan kalau kita merasa begitu, ya (emang betul) buat apa lagi kita memohon pengampunan pada Tuhan?
Kini benarlah kalimat ini “Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”. Ya karna kita (membuat kita merasa) tidak membutuhkan anugerah pengampunan dari Bapa tadi itu. Ya jadi ngapain Bapa ngampuni kita? Wong kitanya merasa gak butuh. Tul gak?



Hmmmh...mengampuni emang sulit sih ya. Apalagi kalau si dia udah kelewatan nyakitinnya (menurut kita). Tapi marilah teman, selain menyadari hal yang di atas tadi (anugerah pengampunan dari Bapa tadi), kita juga perlu menyadari bahwa (kebanyakan) sebenarnya ketika kita sedang marah/kesal pada orang lain, kesalahan itu gak semata-mata ada pada orang tersebut. Tapi juga ada pada diri kita sendiri.
Marilah lebih melihat ke dalam dahulu lebih banyak dan lebih dalam lagi,,
then we can defeat every conflict! :)

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Matius 7:3-5)


Menyimpan kesalahan orang lain berlama-lama tidak ada untungnya sama sekali. Sama sekali. Yang ada malah hanya rugi. Si dianya happy-happy aja disana, kog mau-maunya kita yang nyesek abis disini. Gak mau khan? ;)

Saturday, March 9, 2013

Kabar Baik itu..

Sekilas tentang si kabar baik,

Surga diberikan Allah kepada kita secara cuma-cuma. Sekalipun Ia tidak wajib memberikannya, dan sekalipun manusia tidak layak menerimanya. Itu yang selama ini kita sebut anugerah. Surga itu bukan upah atau hasil yang didapat dari usaha manusia. Tidak. Sebesar apapun manusia berbuat baik sana-sini, pelayanan sangat aktif dimana-mana, tetap itu semua tidak berperan sedikitpun untuk beroleh akses ke surga itu. Semata-mata karena anugerah Tuhan sajalah kita bisa memperolehnya.
Namun begitu, sayang seribu sayang, semua orang, ya SEMUA orang tidak dapat menggapainya. Kenapa?

Tuesday, February 26, 2013

Thank God for the 850k


Hari ini aku baru tersadar bahwa ada untungnya (maksudnya) juga kenapa Tuhan ngijinin aku dibayar per bulannya oleh Negara hanya sebesar Rp. 850.000/bulan.

Kemarin-kemarin hanya tau mengumpat saja dalam hati, “bisa-bisanya Negara ini tega ngasih honor ke kami dengan nilai seminim itu (yang jauuuh di bawah UMR, apalagi untuk lokasi seperti ibukota yang biaya hidupnya wahwahwah), belum lagi kalau kena potongan sekian persen kalau telat (karna macet) dan kalau gak masuk (karna sakit)."



Kini aku mengerti..


Tuhan sedang melatihku!

Tersadar tadi, ketika lagi ngobrol2 sama seorang mas-mas di kantor, dia bilang gini,”lu masih bisa kaya gini khan karna belum punya anak, apalagi kalau ntar anak lu sakit, pasti butuh banyak banget biaya ini itu”. Aku cuma diam senyum ngangguk-ngangguk, tapi dalam hati sempat protes mau bilang,”tapi khan honorku skarang masih 850.000 mas! Ya mungkin akan sama lah sulitnya/deritanya untuk nahan diri buat gak macem2 kekgitu.”

Setelah masnya pergi.. aku merenung sesaat, berpikir “iya ya, ada untungnya juga aku skarang masih diberi honor tiap bulannya hanya sebesar Rp.850.000, di saat aku masih gigih2nya memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Coba kalau begitu masuk ke tempat ini aku udah langsung nerima gaji normal (yakni sekitar 4jutaan), mungkin gak bakal berasa samaku sulitnya menahan diri untuk gak nerima yang macam2 itu. Lantas bila di kemudian harinya aku bakal menghadapi kondisi-kondisi sulit seperti yang disebutkan si mas-mas itu, dan bila pada saat nanti itu passionku untuk mempertahankan kebenaran itu udah mulai redup (jangan sampai, Tuhan), aku mungkin bakal susah setengah mati untuk nolak yang macam-macam itu,, apalagi kalau ‘itu’ sudah dihidangkan begitu saja di depan mata, seperti yang sudah-sudah. Hmm..


Oke, it’s no matter again, kalau sampai sekarang, demi meminimalisir biaya hidup, aku masih harus pulang pergi cibubur-senen tiap hari; merasakan asap-asap kendaraan ibukota selama kurang lebih 4 jam; bela-belain udah mesti bangun jam 4 pagi dan udah ngantuk jam 8an malam; dan gak bisa ikutan kalau ada acara kumpul-kumpul sama teman-teman pulang kerja. Aku rela. Aku rela, kalau dengan begini Tuhan sedang mempersiapkan diriku untuk sesuatu yang lebih besar lagi nanti di depan sana.

Dan aku yakin Tuhan akan terus beri kekuatan.

Thanks for this training, God :')


Thursday, February 21, 2013

I love Your Way!


Tepat setahun yang lalu, 21022012 (tanggal simetris yang cantik), skitar jam 3 sorean, kami STAN angkatan 2008 yang diwisuda pada 12 Oktober 2011, menerima pengumuman penempatan instansi. Beberapa detik setelah membaca pengumuman: speechless..tak terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan seterusnya di Jakarta.

Bener2 dalam kondisi yang tak percaya, dan setengah kurang terima. Soalnya di hari-hari sebelum penempatan itu, sudah ter-set di pikiranku bahwa aku akan bekerja di BPK (Badan Pemeriksa Keuangan, instansi favoritku), dan itu posisinya di Medan, kota asalku. Sudah terbayang, setiap pulang kerja nanti aku akan bawain buah-buahan untuk opungku yang senangnya luar biasa kalau dikasih buah. Terbayang juga, aku akan ngajarin adek-adekku yang selama ini sering nge-sms soal2 matematika dan aku sering kesulitan untuk menjelaskannya via sms. Terbayang juga aku akan belajar masak sama bou-bouku yang jago masak. Juga terbayang akan kembali melayani di pemuda/i/remaja gerejaku yang katanya sekarang makin redup.. :(

Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. Itu yang membuatku speechless (dan bahkan sampai menitikkan air mata) selama beberapa menit. Haha Aku menyesali kenapa instansi ini cuma ada di Jakarta. Soalnya selama sebelumnya itu, aku hanya mempersiapkan diriku untuk ke daerah, bahkan untuk yang pelosok sekalipun (kalau gak dapat Medan). Aku udah berencana untuk mengajar anak-anak tetangga disana nantinya. Dan apapun itu yang bisa jadi berkat disana.

Jakarta, oh Jakarta. Padahal aku sudah mulai merasa senang akan meninggalkannya. Haha. Meninggalkan segala kepenatannya, kemacetannya yang luar biasa, dan segala kenangan yang ingin dilupakan (upz). Tapi kenyataan berkata lain. Aku harus tetap stay disini, sampai waktu yang hanya Tuhan yang tau.


Setahun setelahnya kini..

Tuhan mulai membukakan mataku terhadap apa-apa yang bisa ku dapat dan ku kerjakan disini yang mungkin gak akan bisa ku dapat dan ku kerjakan di tempat lain. Ada banyaaaak sekali. Dan tentu kepanjangan kalau diceritakan disini. :D (padahal baru setahun ya. hehe). Tuhan membukakan mereka satu per satu padaku, seiring dengan aku yang mencoba terus belajar menyerahkan segala keinginanku, pemikiranku, perasaanku, SELURUH hidupku kepadaNya.

Kalau ku lihat ke belakang, aku suka takjub melihat rentetan jalan Tuhan, yang dari kejadian yang satu yang kecil membawaku pada kejadian yang lain, dan dari kejadian yg lain itu membawaku lagi pada kejadian-kejadian yang sungguh sangat-sangat ku syukuri, yang kalau aku menyebutnya selama ini “seutil dariku, bejibun dariMu”. They’re all make me fascinated. :’)

I love Your Way!

Tau nggak, semalam sebelum pengumuman penempatan instansi itu (tanggal 20 Feb 2012 malamnya), aku tulis kalimat itu loh di layar depan hp-ku. Gara2nya kenapa ya? Kalau gak salah itu adalah kesimpulan dari pergumulan sengit dalam hatiku, ketika aku melihat banyak jalan-jalanku yang sudah kurancangkan dan ku coba untuk wujudkan, eh tapi bukannya hasilnya sesuai dengan yang diharapkan, tapi malah membawaku pada penyesalan yang besar. Dan waktu itu langsung ngebayangin andai aja aku ikut maunya Tuhan, pasti gak akan seperti itu. Jadi aku mulai memutuskan (lagi dan lagi) untuk mau mengikuti dan mencintai jalannya Tuhan. JalanNya saja.

Dan skarang, kata-kata itu mau tetap terus aku pegang. Kenapa? Ini bukan sekedar bicara tentang iman pengharapan, tapi juga karna aku udah ngalamin sendiri ketika aku mulai mencintai jalan (apapun itu) yang Tuhan hidangkan di hadapanku, hidupku mulai easy going! Dan aku tau hidup yang easy going itu sulit untuk didapatkan ketika aku masih ngotot dan ngotot terus sama kemauan-kemauanku.

Sampai sekarang pun aku masih terus belajar. Gak mudah emang, apalagi kalau kita pikir jalan kita itu udah sangat baik, tapi heran kenapa masih Tuhan gagalkan juga. Tapi aku percaya dan akan terus percaya jalan Tuhan adalah yang terbaik. Terbaik bagi siapa? Aku mengimani itu bagi semuanya. Semuanya. Tidak hanya bagiku sendiri, tapi juga bagi orang lain.

I love Your Way!
Karna aku tau dengan Siapa aku berjalan, yakni Sang Juruselamat, Allah yang Maha Luarbiasa (KasihNya dan SetiaNya). 

Sunday, December 16, 2012

Sakit itu ada gunanya

Setiap kita tentu tidak suka sama yang namanya ‘sakit’. Ketika dia datang, haduuh, rasanya ingin waktu cepat berlalu, tidak sabaran menanti waktu dimana kita bisa sembuh/lepas dari sakit itu. Seperti yang aku alami beberapa minggu ini (ups mulai deh curcolnya :p).

Sembari menunggu waktu itu berlalu, dan menjalaninya, ternyata, lewat sakit itu, Tuhan mengajarkan dan menyadarkanku akan beberapa hal, yang tak kudapatkan jika dalam kondisi tidak sakit.

1. Kita semakin diajarkan bagaimana cara agar tidak lagi mengalami hal (yang membuat sakit) yang sama. Mungkin sebelumnya kita pernah tau teori tentang hal itu, tapi dengan sudah mengalaminya juga, kita bisa semakin mengerti dan menguasai keadaan tersebut.
Aku jadi teringat sama kata-kata seorang sahabatku, Icha, “hiruplah sakitnya dalam-dalam, agar kau benar2 mengerti betapa harusnya kau berhenti dari kesalahan itu”. (kurang lebih begitu ya nang? Agak lupa, udah 3 tahun yang lalu soalnya. hihi).
Dengan pelajaran itu, kita juga bisa menjadi berkat bagi orang lain dengan membagikan pengalaman kita itu agar mereka tidak sampai merasakan sakit yang kita rasakan.
*Ini kalau kasusnya, sakit itu merupakan akibat dari kesalahan sendiri ya*

2. Kita bisa semakin mensyukuri setiap bagian tubuh kita yang tidak mengalami sakit. 
Bukankah dunia itu selalu punya dua sisi: ada jahat, ada baik; ada kaya, ada miskin; ada hidup, ada mati. Maka sebagaimana sehat adalah hal yang wajar bagi kita, maka begitu juga dengan sakit. Dan sewajar kaki kita mendapatkan luka, maka sewajar itu pula kepala kita yang terluka. Jadi walau kaki terluka dan melahirkan rasa perih yang sangat dalam, kita tetap bisa bersyukur untuk bagian tubuh yang lain yang tidak ikut menyumbangkan rasa sakit. Kita juga jadi lebih mensyukuri kesehatan yang selama ini kita anggap biasa-biasa saja, setelah lepas dari rasa sakit itu.
Jadi teringat kata-kata seorang pengawal (yang kudapat dari buku Menapaki Hari Bersama Allah, Yohan Candawasa), “Jika kondisi tidak berubah menjadi lebih buruk daripada sebelumnya, orang susah menyadari betapa beruntungnya dia.”

3. Kita bisa turut merasakan penderitaan orang lain. Hal ini kudapati ketika waktu itu aku sedang merintih kesakitan, karna kakiku yang semakin membengkak dan sangat susah untuk diletakkan di lantai, sampai aku terpaksa melompat-lompat dengan satu kaki buat bisa bergeser (seperti sedang bermain engklek). Pas lagi kesakitan itu, datang pikiran “coba Ren, kamu bayangkan, kalau kamu dilahirkan tanpa kaki, atau bayangkan kamu dilahirkan dengan kaki, tapi karna suatu penyakit yang parah, kakimu mau tak mau harus diamputasi!”  huaaah..can’t imagine! Memikirkannya saja membuatku gak tahan sampai menitikkan air mata, apalagi jika mengalaminya! Kemudian pikiran beranjak pada orang-orang disana yang hidup tanpa kaki. Selama ini aku kurang terlalu ikut merasakan penderitaan mereka. Dulu aku berpikiran, ya itu nasib mereka lah. Tapi sekarang.. T.T
Dengan turut merasakan penderitaan orang lain, hati kita pun mudah tergerak untuk mendoakan dan menolong mereka.

4. Kita bisa semakin dekat pada Tuhan, dan semakin merasakan betapa Tuhan itu sangat mencintai kita. Lewat sakit itu, aku merasakan betapa Tuhan sangat inginnya menjagaku agar tetap berada pada jalanNya. Lewat sakit itu juga, aku bisa benar-benar merasakan kekuatan yang berasal dariNya saja. Ya, lewat sakit itu, aku disadarkan betapa sesungguhnya aku manusia yang begitu lemah, tak berdaya, tak dapat berdiri sendiri, tak bisa menyembuhkan diri sendiri, yang benar-benar sangat membutuhkan Tuhan, dan tak bisa lepas sedetik pun dariNya.

Itu lah yang kudapat selama aku menjalani rasa sakit selama beberapa minggu ini. Kini, hampir menyudahinya. Rasa sakitnya udah mulai redaan (cuma sesekali doank muncul rasa seperti dicubit), dan jalannya udah mulai gak pincang lagi :D Ngerasain banget campur tangan Tuhan yang luar biasa dalam proses ini. Khususnya ketika di kamis pagi yang lalu, aku terkaget-kaget lihat bengkak di kaki berkurang banyak, padahal di rabu malamnya, aku dalam kondisi benar-benar frustasi! Udah 11 hari, tapi tuh rasa perih dan bengkaknya gak kunjung reda juga. Memang sakit sekali rasanya, apalagi tetap mesti ngantor dengan pulang-pergi Cibubur-Senen, pindah-pindah angkutan, di dalam angkot juga kaki terpaksa lumayan ditekuk, di busway juga berdiri lama. Sering banget dalam hati bilang “lebih mending sakit hati deh, Tuhaan, daripada sakit karna luka-luka begini aaaaaa”. Soalnya kalau hati khan udah bisa n ngerti cara ngontrolnya gimana (gayaa, :D), tapi kalau ini khan mau gak mau harus tetep dirasain sakitnya.

Oh iya, jadi di minggu-minggu sebelumnya, aku juga ngalamin yang namanya sakit hati (ups :D). Jadi tuh pelajaran-pelajaran di atas didapatnya ya dari dua jenis rasa sakit ini :p Jadi mikir, setelah menyembuhkanku dari sakit hati selama berminggu-minggu, sekarang Tuhan membawaku pada sakit badan (selama berminggu-minggu juga). haha. Entah apa lah Tuhan ini, segitu pengennya ya Dia semakin mempercantikku lagi dan lagi. :D Ah, i’m so loved!



-ditulis tepat 2 minggu setelah kejadian kesrempet mobil-
-dedicated to my lovely and caring family, people and books around that have encouraged me, and especially for my Great Lover and The Giver of Amazing Strength, God-




*fyi, judul tulisan terinspirasi dari judul salah satu bab dalam buku "MendapatkanMu dalam Kehilanganku" tulisan Pak Yohan Candawasa, "Susah itu Ada Gunanya"