Thursday, December 6, 2012

Teguran

(Ditulis pada tanggal 30 November 2012, tapi baru bisa dipostnya sekarang)

Meskipun saya dapat berbicara dengan berbagai bahasa manusia, bahkan dengan bahasa malaikat sekalipun, tetapi saya tidak mengasihi orang lain, maka ucapan-ucapan saya itu hanya bunyi yang nyaring tanpa arti.
Meskipun saya pandai menyampaikan berita dari Allah, dan mengerti semua hal yang dalam-dalam, dan tahu segala sesuatu serta sangat percaya kepada Allah sehingga dapat membuat gunung berpindah, tetapi saya tidak mengasihi orang-orang lain, maka saya tidak berarti apa-apa!
(1 Kor 13:1-2, BIS)

Kasih itu sabar; kasih itu baik hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
(1 Kor 13:4-6, ATB)
Ia tahan menghadapi segala sesuatu dan mau percaya akan yang terbaik pada setiap orang; dalam keadaan yang bagaimanapun juga orang yang mengasihi itu tidak pernah hilang harapannya dan sabar menunggu segala sesuatu. (1 Kor 13:7, BIS)

Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (1 Yohanes 4:20)

Entah darimana jalannya ayat2 ini bisa bergema terus dalam hati sepanjang hari ini. Mungkin
Tuhan tau segala sesuatu yang gak beres yang tersembunyi dalam hatiku. Termasuk
Tuhan tau aku sedang membenci orang lain dengan diam-diam. Dan
Dia pakai ayat ini untuk menegurku habis-habisan.

Friday, November 23, 2012

God’s Encouraging Words for Me Today (23 Nov '12)


Saat teduh:
... semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. (Filipi 4:8)

Apa yang kita biarkan menguasai pikiran kita akan sangat memengaruhi tindakan-tindakan kita. Ketika kemarahan, keluhan, kesedihan, mulai menguasai diri, tahan diri untuk langsung bereaksi. Datanglah pada Tuhan memohon damai sejahtera-Nya melingkupi. Minta pertolongan Tuhan untuk mengarahkan pikiran kita pada hal-hal yang berkenan di hati-Nya.

TUHAN, KUASAI PIKIRANKU DENGAN PIKIRAN-MU,
AGAR AKU DAPAT MELAKUKAN HAL-HAL YANG MENYUKAKAN HATI-MU.


Bacaan ketika di busway:
"Sesungguhnya rasa duka yang timbul akibat kehilangan yang kita alami di satu sisi merupakan sebuah bentuk protes (tidak nrimo) terhadap kefanaan, tetapi di sisi lain adalah sebuah ekspresi kerinduan akan "sesuatu" yang abadi, yang tidak dapat hilang, tidak dapat meninggalkan, dan tidak dapat diambil dari kita untuk selama-lamanya."
 
"ketika kita dikosongkan dari apa yang kita kasihi dan apa yang kita rasa penting, hal itu akan membuat kita terhempas sampai di dasar, namun tidaklah berarti Allah telah meninggalkan kita. Allah hanyalah menyingkirkan rintangan-rintangan yang menghalangi kita untuk dipenuhi lebih banyak dan lebih limpah dengan diriNya"


Ayat di blogku hari ini:
Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
(Roma 5:3-5)


**

Ah, You know me so well God. You know about my heart, my cry, my grief, my need so well.

***

Hari ini aja cerah banget ren! Sepanjang hari lagi! (tumben, setelah setiap hari hujan terus)
So, masa mau kalah sih sama cuaca? huh?
Enggak doooonk ^^ Haha
ThankYou God. i love You.
And i wannawanna love You with all my heart, my soul, my strength, my mind.
Keep giving me strength.

Tuesday, November 20, 2012

Aku Takut Aku Kegeeran

(cuma mau copas aja note pertamaku di grup facebook PMK STAN yang di-post pada 13 Juni 2011 pukul 01.40.)


Aku takut ketika aku bilang aku percaya kepada Kristus, tapi ternyata aku gak sadar aku kurang beriman dalam pergumulan2ku di dunia, ketika aku takut masalah2ku tak kunjung selesai, meragukan kebesaran Tuhan dan karyaNya.

Aku takut kalau aku bilang Roh Kudus ada dalamku, tapi ternyata aku tidak memiliki buah Roh itu,
atau aku takut ketika aku merasa aku punya buah Roh, tapi ternyata tidak semuanya, dimana buah Roh bukanlah buah Roh ketika kasih ada tapi sukacita gak ada, atau ketika kelemahlembutan ada, penguasaan diri tidak ada.

Aku takut kalau aku merasa bahwa aku memiliki kasih, tapi ternyata aku gak sadar bahwa aku sering tidak sabar terhadap kesalahan orang lain, aku cemburu melihat harta dan karunia2 orang lain, aku sombong dan lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain, aku mudah marah dan masih terus mengingat-ingat kesalahan orang lain. Aku takut aku merasa aku sudah mengasihi sesamaku, tapi aku gak sadar aku sering enggan memberi kepada orang yang membutuhkan, aku enggan menegur saudaraku karena takut gak disukai, atau takut adanya ketegangan dan ketidaknyamanan. Aku juga takut ketika aku merasa aku mengasihi temanku, saudaraku, tapi aku gak sadar bahwa kadang aku berpikiran negatif tentangnya, membicarakannya di belakang, dengan tidak mengatakan langsung saja sebenarnya kepadanya.

Aku takut ketika aku merasa ada sukacita di hatiku, tapi aku sering sedih dan khawatir akan suatu hal dalam masa depanku, aku gak sadar sering mengasihani diri sendiri. Aku takut ketika aku tahu bahwa sukacita sesungguhnya adalah cukup tahu bahwa namaku sudah terdaftar di surga, tapi aku masih fokus dan terjebak kesedihan/keresahan dalam masalah2 jangka pendek (dunia).

Aku takut ketika aku merasa bahwa aku hidup dengan damai sejahtera, tapi  aku gak sadar aku tidak mengejar perdamaian itu. Aku takut ketika aku sudah sangat tahu bahwa aku dengan orang percaya lainnya adalah anggota dari Satu Tubuh, tapi aku tidak merasa memiliki mereka, aku berperang dengan mereka, masih memelihara ketidakselarasan dan sengketa. Hmmh.. sungguh ironis..

Aku takut ketika aku merasa aku memiliki kesabaran, tapi ternyata aku gak sadar aku sering menggerutu tehadap kekurangan orang lain, aku ingin cepat-cepat saja keluar dari masalah2/kesulitan2 dunia, aku ingin Tuhan segera menjawab doaku, bahkan ingin segera Tuhan mengabulkan doaku.

Aku takut ketika aku merasa aku memiliki kemurahan, tapi aku gak sadar ternyata aku hanya menunjukkannya pada orang2 terdekatku: keluarga, teman, tetangga yang disukai; aku tidak menunjukkannya kepada musuhku, dan tidak berbuat baik kepada mereka. Aku takut ketika aku bilang aku tahu apa itu murah hati, tapi ternyata aku nggak peka terhadap orang lain dan sungguh2 menginginkan kebaikan mereka.

Aku takut ketika aku merasa aku memiliki kebaikan dalam diriku, tapi ternyata aku tidak menunjukkannya mulai dari rumahku, aku enggan membuang sampah, enggan mengerjakan pekerjaan rumah. Dan aku takut ketika aku bilang aku memiliki buah kebaikan, tapi ternyata aku melakukan pekerjaanku nantinya di kantor hanya untuk menjadikannya sebagai peluang untuk menjadi kaya, untuk mencari ketenaran, bukan karena memandang bahwa itu kesempatan dari Tuhan yang telah merencanakan pekerjaan baik untuk ku lakukan (Efe 2:10 *ayat sidiku :D).

Aku takut ketika aku merasa aku juga memiliki kesetiaan, tapi aku gak nyadar bahwa ketika aku dikasih kritikan sedikit atas kesalahanku, udah langsung down, nyerah, menganggap itu telalu berat untukku. Aku takut ketika aku bilang bahwa kesetiaan ada di dalamku ketika aku melayani Tuhan, tapi aku gak sadar aku sering lalai dalam melakukan tugas2ku, sering tidak ontime, kurang menghargai waktu, tidak dapat diandalkan, dan tidak dapat dipercaya.

Aku takut ketika aku merasa aku sudah cukup lemah lembut, tapi aku gak sadar ternyata kadang aku gak menjaga kata2ku, sering keluar kata2 atau cara yang kasar yang bisa melukai orang, sehingga tidak membuat orang lain merasa nyaman..

Aku takut ketika aku pikir aku sudah cukup menguasai diri, tapi ternyata aku nggak sadar aku masih membiarkan pikiran2ku untuk berpikiran negatif terhadap sesama, mereka-rekakan agar sesuatu berjalan sesuai dengan keinginanku.

Hmmhh..
Aku takut kalau aku bilang aku murid Yesus, yang memiliki teladan yang luar biasa akan kerendahan hati, dan ketika aku merasa bahwa aku juga sudah memiliki kerendahan hati, tapi aku gak sadar, aku masih sering ingin menonjolkan diriku, menunjukkan ini aku, ingin orang melihat kebesaranku, atau ingin orang memuji kerja kerasku/prestasiku, tidak mau menerima kritikan, tidak mau diajar, atau tidak cukup rendah hati untuk mengakui kesalahanku ketika dikoreksi oleh orang percaya lain, bertahan dalam pemikiran2ku yang salah, yang sebenarnya tidak menghasilkan pertumbuhan imanku ke arah Kristus. Aku juga takut kalau aku berkoar2 akan suatu hal, ternyata aku tidak mengerti akan hal itu, tidak mengerti bahwa ada hal yang sesungguhnya lebih esensiil dari itu, yaitu INJIL DIBERITAKAN.


Kesimpulan:
Aku takut ketika aku sangat merasa bahwa aku adalah hamba Tuhan, muridNya, anggota tubuhNya, tapi ternyata aku tidak sadar aku tidak menghidupi karakter seorang hamba, murid, atau anggota tubuhNya, ketika aku tidak memperjuangkan KERENDAHAN HATI, KASIH, SUKACITA, DAMAI SEJAHTERA, KESABARAN, KEMURAHAN, KEBAIKAN, KESETIAAN, KELEMAHLEMBUTAN, PENGUASAAN DIRI, dan KESATUAN.

Hmmh..Aku takut.
Ya, aku takut kalau ternyata masih banyak kegeeranku lainnya..

Wednesday, November 7, 2012

Andai Aku Menjadi Ketua KPK


Pertama, aku akan mensosialisasikan sampai ke pelosok Indonesia apa sebenarnya pengertian dari kata “korupsi” yang mau terus diberantas itu, serta bahayanya (sedetil-detilnya) baik bagi orang lain maupun diri sendiri.
Menurut KBBI, korupsi adalah penyelewengan/penyalahgunaan uang negara untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Kalau saya simpulkan, korupsi adalah SEGALA upaya untuk memindahkan uang yang harusnya benar-benar untuk kepentingan rakyat menjadi miliknya. Termasuk di dalamnya, perjalanan dinas & konsinyering yang tidak ada manfaatnya sama sekali, serta penyerapan anggaran (yang selalu berlebih banyak tiap tahun) untuk hal-hal yang tidak perlu.

Kedua, aku akan mengajukan permohonan kepada Presiden dan DPR untuk merevisi UU No.30/2002 pasal 11 yang menyatakan bahwa tipikor yang diberantas oleh KPK hanyalah tipikor yang nilainya 1 milyar ke atas. Mau jadi apa Negara ini kalau tipikor-tipikor yang senilai Rp. 999.999.999 tidak ditangani oleh KPK?

Ketiga, aku akan berantas korupsi yang sedang merajalela di pemerintahan (khususnya instansi tempat kerjaku sekarang). Aku telah lihat sendiri bagaimana uang Negara sering habis begitu saja tanpa ada hasil yang didapatkan (apalagi hasil untuk kepentingan rakyat). Juga aku udah bosan lihat moral para pegawai yang maunya terima duit melulu, tapi ogah-ogahan mengerjakan tanggungjawabnya. Moral seperti itu telah berakarurat dalam kebanyakan diri PNS. Itulah sebab kenapa korupsi tak kunjung habis bahkan berkurang di negeri ini.

http://lombablogkpk.tempo.co/index/tanggal/476/Reniwan%20Agustina%20Purba.html

Thursday, September 6, 2012

Terima Kasih


Berapa banyak di antara kita yang sering mengucapkan kata “terima kasih”?

Atas hal-hal apa saja kita biasanya mengucapkannya?

Kalau aku, tak terhitung dan tak tersebutkan. Haha

Dimulai dari pagi di kehidupan sehariku, trimakasih atas pelayanan pak supir T15A, kondektur TransJakarta, pak polisi yang membantuku nyebrang ke kantor, atas jasa penjual makanan, atas jasa OB yang membawakan makananku, atas jawaban di telpon, atas kebaikan hati teman-teman yang suka menolongku, dan atas yang lain yang tak tersebutkan itu.

Aku berprinsip, setiap usaha orang lain yang berhubungan dengan kepentinganku harus kuberi apresiasi, setidaknya dengan mengucapkan kata “terima kasih”. Somehow, menurutku, kata itu juga bisa sedikit menciptakan suasana kekeluargaan, kehangatan, asal diucapkan dengan tulus. 



Seringnya aku mengucapkan terimakasih, ternyata itu jadi masalah! Utangku jadi banyaknyaknyaknyak!

Bagaimana tidak?

Terima kasih, terima kasih, terima kasih, terima kasih, terima kasih…….aaaaaaaaaa

Siapa sih orang Indonesia yang ciptain frase itu? Kenapa sih harus dua kata itu yang diucapkan sebagai apresiasi atas kebaikan, atas apapun yang kita terima dari orang lain???

Kata “terima” dan “kasih”. Apa kamsudnya iniii??





Hmmh. Barutau dari inanguda (tante)ku. Ternyata, dengan mengucapkan kata “terima kasih” atas segala sesuatu yang kita terima dari orang lain (dan dari Tuhan -Si Maha Kasih- tentunya :D), kita pun sedang berjanji untuk kasih juga kepada orang lain. Setelah ada kata kerja “terima”, harus diikuti pula dengan kata kerja “kasih”. Kalau tidak mau "kasih"? Yasudah, cukup gunakan kata “terima” saja. :D


Kembali ke pertanyaan di atas, atas apa saja biasanya kita mengucapkan “terima kasih”? Banyak.
Oke, kita simpulkan: atas pertolongan dan pelayanan. Atas segala sesuatu untuk kebaikan kita.


** merenung **


Selamat menghidupi setiap kata yang keluar dari mulut kita.

Selamat berintegritas. Dan



udah mau baca, dan mau menemaniku bayar utang :D



*eh by the way, keren ya bahasa Indonesia! B)

Monday, August 13, 2012

I'm so grateful to be a Christian

Kristus mengajarkanku untuk MENGASIHI SEMUA orang, termasuk musuh2ku, orang2 yang tidak menyukaiku, dan orang2 yang melakukan kesalahan padaku. Dia mengajarkanku untuk mengatakan “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dengan begitu, hati akan terasa lebih damai, nyesek karna kebencian pun hilang, yang ada tinggal rasa belas kasihan kepada mereka.


Kristus mengajarkanku untuk menjadi pelayan bagi sesamaku, mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentinganku, mementingkan kebutuhan orang lain di atas keinginanku. Dia telah memberikan teladan semasa Dia menjadi manusia. Dia datang ke dunia untuk melayani, bukan untuk dilayani.


Poin (prinsip) ini, aku pikir, sangat besar peranannya membawa kebaikan bagi negeri/dunia ini.
  • Para presiden, menteri, gubernur, walikota, camat, maupun para pelaksana atau para bawahan yang bekerja di pemerintahan pasti akan STOP mencari keuntungan sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri. Mereka akan bekerja dengan benar-benar memperhatikan kebutuhan rakyat.
  • Tidak akan ada kejahatan. Cukup lebaykah? Mengkhayalkah? Tidak! Karna kejahatan (seperti pencurian, korupsi, fitnah, perkelahian, tawuran, peperangan, pembunuhan, perselingkuhan, perzinahan, perceraian,dll) pada dasarnya disebabkan oleh ego yang begitu besar. Maunya AKU saja yang dituruti, maunya AKU yang mendapatkan bagian terbesar, AKU yang dianggap hebat, maunya AKU dikenyangkan, maunya AKU dipuaskan, maunya AKU disenangkan, maunya AKU, AKU, dan AKU.. tidak peduli orang lain, tidak peduli dengan penderitaan mereka..
  • Orang-orang akan memberikan bangkunya di bus kepada orang tua atau orang yang lebih membutuhkan.
  • Tidak ada lagi individualisme.
  • Dan masih banyak lagi.. intinya, setiap orang akan memikirkan apa yang baik bagi orang lain yang bisa dikerjakannya, meski itu terkadang membutuhkan pengorbanan yang besar. Seperti Dia yang telah mengorbankan nyawaNya bagi keselamatan manusia.
 
Kristus juga mengajarkanku untuk tidak khawatir. Termasuk untuk tidak khawatir bila karna berbuat baik, atau karna tidak mengikuti cara dunia yang mengajakku untuk mendapatkan sesuatu yang sesungguhnya bukan hakku, aku akan rugi, aku akan berkekurangan. Tidak. Burung pipit yang kecil saja Dia pelihara, Dia beri makan, dan bunga bakung di ladang yang umurnya hanya sehari saja Dia beri pakaian yang sangat indah. Mengapa aku, manusia, ciptaan yang paling mulia, tidak Dia pelihara juga?


 
Aku juga tidak perlu merasa risau akan setiap bahaya dan masalah yang (akan) datang. Dia bilang Dia telah menyelesaikan semuanya bagiku. Semuanya.


Aku sangatsangat bersyukuuuuur sekali bisa mendapatkan ajaran2 ini. Hidupku bisa lebih easy going. Kebencian, egoisme, dan kecemasan tak perlu lagi menempati ruang hatiku. Yang ada hanya sukacita, damai sejahtera, dan kasih pada orang lain.


Dan yang paling paling aku syukuri adalah..

Allah mau mengorbankan DiriNya menjadi manusia, disiksa, dan disalibkan hanya untuk menebusku dari dosa yang berujungkan maut. Ya, Dialah Kristus, Allah yang menjadi manusia. Aku tak meragukan kemampuanNya bagaimana Allah bisa menjadi manusia, dan tidak mempertanyakan apakah ketika Ia turun ke dunia menjadi manusia, surga menjadi kosong. Kenapa tak percaya? Kenapa meragukan? Bukankah Dia adalah Allah yang Maha Ada di segala tempat, dan kuasaNya sungguh tak terbatas jauh melampaui batas pemikiran manusia?

Aku juga bersyukur, bahwa ternyata tidak diperlukan usahaku sama sekali untuk memperoleh keselamatan itu. Jadi tak perlu aku memforsir diri melakukan sebanyak-banyaknya kebaikan dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya pahala. Karena kalau kerjakerasku menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan surga itu, maka mustahil lah aku bisa memperolehnya. Karena tuntutan Allah begitu sempurna, Ia membenci dosa sekecil apapun. Sementara aku adalah manusia yang tak luput dari dosa.

Aku bersyukur aku diselamatkan dan memperoleh sorga, HANYA dengan PERCAYA bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamatku.

Aku bersyukur karena Kristus selama di dunia telah memberikan perintah dan teladan hidup yang paling sempurna yang beberapa telah disebutkan di atas, untuk kuhidupi selama di dunia...


Satu lagi, aku bersyukur Kristus mengajarkanku bahwa penyembahan pada Allah tidak dibatasi oleh tempat dan posisi. :)

God is SPIRIT and they that worship him must worship him in spirit and  in truth. (Yohanes 4:24)


Karna aku bersyukur telah mengenalNya dan ajaranNya, aku pun ingin menyenangkan dan membanggakanNya juga. Aku mau melatih terus mulut, mata, telinga, tangan, kaki, pikiran, dan hatiku untuk melakukan ajaran-ajaranNya. Hidupku kini kupersembahkan pada Kristus sepenuhnya : mengikuti teladanNya dan menaati perintahNya. Cause i'm a Christian..



related posts:
http://reniwanagustinapurba.blogspot.com/2013/03/kabar-baik-itu.html
http://reniwanagustinapurba.blogspot.com/2012/02/enaknya-punya-tuhan-itu.html 

Thursday, August 2, 2012

Pemimpin Indonesia : Pemimpin yang Menghidupi Pancasila

Data-data dalam politicawave.com menunjukkan bahwa lebih banyak komentar positif publik untuk Jokowi-Ahok daripada untuk Foke-Nara. Malah untuk Fauzi Bowo, komentar negatif semakin banyak saja, sampai banyak masyarakat yang menyerukan agar mereka mundur saja. Apa pasal? Dengan menyimak analisa-analisa yang dilakukan oleh PoliticaWave, saya menyimpulkan bahwa mereka masih kurang menerapkan nilai-nilai Pancasila.

Pancasila adalah dasar Negara Indonesia. Yang namanya dasar, pasti lah selalu jadi acuan dimanapun kaki berpijak. Jakarta sebagai ibukota Negara Indonesia tentu harus mempunyai gubernur yang berpegang pada Pancasila. Namun beberapa periode terakhir, Pancasila seakan telah kabur entah kemana.
Kini saatnya Gubernur Jakarta kelak mengacu kembali pada Pancasila:


1.  KETUHANAN YANG MAHA ESA
  • cinta kepada Tuhan (menaati perintahNya, menjauhi laranganNya) dan membuktikannya dalam pemerintahannya,
  • tidak membiarkan ada rakyatnya yang terhalang beribadah kepada Tuhannya,
  • mendorong rakyatnya untuk saling menghargai dan mengormati walau berbeda-beda keyakinan;

2.  KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
  • memperhatikan kebutuhan dasar rakyatnya untuk makan, punya tempat tinggal, dan mengecap pendidikan, sehingga tidak ada lagi pengemis, anak jalanan dan yang putus sekolah, 
  • memperhatikan kesejahteraan dan hak-hak rakyatnya, sehingga tidak perlu lagi ada demo-demo yang sampai bikin macet jalanan,
  • tidak mencuri hak (uang) rakyat, dan memberi sanksi yang tegas kepada bawahannya yang mencoba mencuri uang rakyat,
  • memperhatikan keamanan masyarakat, dan mengusahakan sebaik-baiknya rasa aman bagi masyarakatnya;

3.  PERSATUAN INDONESIA
  • mengembangkan produksi dalam negeri,
  • mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan-kebudayaan asli Indonesia;
  • menjaga kebersihan alam Indonesia;

4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/ PERWAKILAN
  • mendengar setiap suara rakyat, baik yang berupa saran, kritikan, maupun keluhan, kemudian mengindahkannya, tidak perlu menunggu sampai rakyat marah lalu berdemo di jalanan, bikin Jakarta yang sudah macet pun jadi tambah macet (simak pernyataan Pak SBY disini);

5.  KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
  • berkeinginan agar semua rakyatnya berhak mendapatkan pendidikan dan layanan kesehatan;
  • tidak bergaya hidup mewah, ketika rakyatnya banyak yang hidup menderita. Dalam berita ini, seorang anggota DPR, Lily Wahid, mengatakan hidup mewah itu cerminan lemahnya empati terhadap rakyat;
  • tidak eksklusif, termasuk ketika mobilnya lewat, jalanan untuk umum tidak ditutup, sementara rakyatnya harus ‘menikmati’ kemacetan selama berjam-jam.

Dengan tetap mengacunya pada Pancasila, otomatis Gubernur Jakarta pun akan mengerjakan segala usaha-usaha terbaiknya demi kemajuan bangsa Indonesia, khususnya rakyat Jakarta, baik dalam hal kesejahteraan rakyatnya, maupun pelestarian lingkungannya.